Baccarat Tie_Online live casino_Bookmaker Ranking_Baccarat casino advantage_Football betting platform

  • 时间:
  • 浏览:0
Di saat aku memulai.

Seandainya puisi ini,

hanya sebuah tulisan-tulisan yang kutulis berima.

Perjalanan kisah cintaku sepertinya belum menemukan akhir ceritanya.

Di saat hati kita telah mereda;

"Pantang menyerah" hal itulah yang kau sukai dariku dan yang sekarang kubenci dari diriku.

Engkau menjadi sandaran di saat jiwaku mulai lelah.

Semua berakhir sampai di sini;

Semua ada di tanganku.

Mungkin cintaku ini buta,

Rasa sayang pun selayak garam yang mulai terasa begitu hambar.

Aku bukanlah orang yang akan  dengan mudah meninggalkannya setengah jalan.

Saat pikiran dan pengertian kita sudah semakin dewasa.

Entah kapan aku akan dapat menulis kebahagiaan cinta lagi,

Ketika setiap kisahku bagai kisah film atau novel yang berending terbuka.

Saat engkau datang,

Hadirmu membuat aku belajar mengerti diriku, lebih baik lagi.

Tetapi tetap aku berharap segala yang terbaik untukmu,

Tolong harapkan yang sama untukku.

Cinta berubah hanya menjadi sebuah kata yang tidak memiliki makna.

Ketika kamu dan aku bukan lagi satu,

Ketika kamu dan aku sudah bukan lagi kita.

Sama seperti senja yang tidak selalu tetap berada di situ,

Ada kala dia ikhlaskan terangnya digantikan malam.

Sampai jumpa kembali,

Puisiku ini non-fiksi.

Apalah alasan untuk terus bersatu?

Namun kali ini,

Dengarkanlah…

Dan puluhan ucap janji yang kau beri.

Biarlah kali ini,

Di saat aku mulai mencintai seseorang jauh melebihi dari diriku sendiri.

Bahkan melebihi Penciptaku.

Dan kali ini,

Kucoba untuk kembali mendengarkan kata hati.

Atau mungkinkah aku yang memutuskan untuk tidak melihat.

Kulepaskan engkau saat ini.

Bersama ribuan hari yang kita lewati,

Saat engkau datang,

Kucoba mencari kembali titik temu,

Tetapi ego kita bagai menabrak dinding yang tebal nan amat tinggi.

Puisiku ini aku.

Maka sekali lagi, untuk kamu…

Namun, di saat hati ini dipenuhi dengan ragu.

Di saat karakter kita mulai melepaskan topeng luarnya.

Jika kita hanya saling menyakiti.

Tapi apa daya…

Sayonara.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Ada pun diriku yang tidak pernah berhak menahanmu.

Ikatan ini sudah terlalu lama mengikat hingga aku remuk redam.

Sayonara

Dan waktu pun mulai menilik niat kita,

Jeda dan jarak pun menguji pula komitmen kita.

Untuk mengerti perpisahan bukanlah akhir.

Mungkin itu adalah permulaan untuk perjalanan dan pelajaran hidup yang lebih baik lagi.

Puisiku ini kamu.

Dan mungkin pula saat inilah harus kuambil sebuah keputusan hati.

Perjalanan Terlamaku

Sayonara.